CIA Dalang Utama Penculikan Imam Mesir

5 06 2009

MILAN – kabar ini dihembuskan oleh Pejabat Dinas Intelijen Italia. Pada Rabu (25/5) dia mulai ‘bernyanyi’ atas persekongkolan dengan rekannya dari AS pada 2003. Dia diduga terlibat atas penculikan imam Mesir dari jalanan Milan.

Jadi aksi penculikan ini merupakan bagian dari program “rahasia” CIA. Tersangka “teror” dipindahkan dari luar proses peradilan ke negara ketiga. Dari situlah terkuak praktik penyiksaan tersebut.

Sebelumnya Mantan kepala intelijen militer Italia, Nicolo Pollari, dipaksa untuk mengundurkan diri atas kejadian tersebut. Pollari berada di antara tujuh terdakwa Italia yang ada dalam persidangan. Dua diantaranya didakwa karena membantu penculikan.

Tokh, Pollari menyangkal tuduhan tersebut. “Saya benar-benar tidak terlibat, tetapi untuk mempertahankan diri sebagai warga negara mengharuskan saya merujuk ke isi dokumen yang terlarang oleh undang-undang, saya tidak bisa.”

Beberapa terdakwa, termasuk Pollari dan mantan deputi Marco Mancini, Rabu mendapat surat dari Perdana Menteri Silvio Berlusconi. Perdana Menteri mengingatkan mereka untuk tidak mengungkapkan rahasia negara.

Hanya Pollari dan pengacaranya yang menyuarakan ketidaksenangan dengan pesan tersebut. Pollari merasa memiliki hak untuk membela diri. Pollari mengatakan bahwa beberapa dokumen dapat membuktikan bahwa dia benar-benar tidak terlibat dalam kasus tersebut.

Tetapi dokumen tersebut dirahasiakan.

Pemerintah Italia menolak ekstradisi atas 26 terdakwa AS dalam kasus tersebut. Diantaranya, 25 agen CIA dan seorang kolonel angkatan udara Amerika Serikat, yang tidak hadir dalam persidangan.

Osama Hassan Nashr, imam yang lebih dikenal sebagai Abu Omar, diculik dari jalanan di Milan pada 17 Februari 2003.

Abu Omar dipindah ke sebuah penjara keamanan tingkat tinggi di luar Kairo. di situ dia ditahan selama empat tahun. Setelah dibebaskan pada Februari 2007, ia buka mulut tentang penghinaan plus penyiksaan selama penahanan.

Penculikannya itu diperkirakan merupakan salah satu dari banyak penculikan rahasia di seluruh dunia sejak serangan 11 September, 2001.

Masalah tersebut dihadirkan ke depan Mahkamah Konstitusi Italia. Negara yang terkenal dengan makanan lezat Pizza itu sepakat bahwa bagian dari penyelidikan tersebut telah melanggar ketentuan rahasia Negara. Tetapi berkelit bahwa penuntutan harus berdasarkan bukti yang benar.

Penculik Imam tersebut diduga bocor, dari ponsel. Sehingga penyelidik di
Milan mencurigai bahwa AS telah menjelaskan tujuan mereka dengan para pejabat intelijen Italia.

Minggu lalu hakim Oscar Magi memutuskan bahwa Perdana Menteri Silvio Berlusconi dan pendahulunya Romano Prodi tidak perlu untuk bersaksi dalam persidangan.

“Kesaksian mereka akan tak berguna,” katanya.

Atau karena harus berkompromi terhadap rahasia negara.

Penculikan terjadi selama paruh kedua kekuasan Berlusconi sebagai perdana menteri, dari 2001 sampai 2006. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak pernah diberi tahu tentang operasi tersebut.

Pemerintahan berikutnya, Prodi mengikuti kebijakan Berlusconi menolak untuk mencari ekstradisi terhadap terdakwa asal Amerika dalam kasus ini.
Hal ini memperkeruh hubungan bilateral kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

Abu Omar, kini berusia 47 tahun, berkata bahwa dia sedang berjalan ke masjid di Milan saat dia diculik. Ia diperkirakan telah dibawa ke pangkalan udara AS di Aviano, sebelah timur laut Italia. Kemudian diterbangkan ke Kairo dari pangkalan AS di Jerman.

Setelah di Kairo, Abu Omar berkata dia ditahan di sebuah fasilitas rahasia di mana ia diikat dan disiksa dengan sengatan listrik.

Jaksa penuntut menduga bahwa Omar pernah berjuang di Afghanistan dan terlibat dalam perekrutan pejuang untuk pergi ke Irak. Abu Omar menyangkal tuduhan tersebut melalui pengacara.

Bertindak atas pesanan AS, layanan intelijen asing sedang menangkap, dan menahan serta menginterogasi tersangka “terorisme” yang ditemukan di luar Irak dan Afghanistan.

Mengutip seorang mantan pejabat pemerintah AS yang tidak mau disebutkan namanya, berkata kepada surat kabar New York Times, hanya tersangka tingkat tertinggi yang merupakan pengecualian.

Pendekatan yang sekarang memang berbeda. Setidaknya dimulai dalam dua tahun terakhir dari pemerintahan mantan Presiden George W. Bush, telah mendapat momentum di bawah Obama, surat kabar tersebut melaporkan.

Hal ini didorong oleh kekuasaan pengadilan dan perubahan kebijakan yang menutup penjara rahasia yang dijalankan CIA. Tapi hal ini tidak menghentikan transfer tahanan dari luar Irak dan Afghanistan ke penjara militer AS.

Advokasi Hak asasi manusia mengatakan bahwa mengandalkan pihak asing dan pemerintah untuk terus menginterogasi tersangka bisa membawa risiko yang signifikan. Menurut laporan, karena nasib banyak para tersangka “terorisme” yang dikirim Bush ke luar negeri masih belum jelas.

Pengamat juga mempertanyakan keakuratan atau kebenaran di belakang petunjuk mereka. (iw/meo/ap) Sumber Sabili
http://sabili.co.id/index.php/200905301798/Islami/Wah-CIA-Dalang-Utama-Penculikan-Imam-Mesir.htm


Actions

Information

Leave a comment